KARYA TULIS ILMIAH

FAKTOR RISIKO UMUR IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN PRE EKLAMPSIA-EKLAMPSIA

DI RSUD WATES KABUPATEN

KULON PROGO TAHUN 2006

 

 

 

Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk

Memperoleh Gelar Ahli Madya Kebidanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diajukan oleh :

 

BENNY KARUNIAWATI

NIM :P.07124004198

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA

JURUSAN KEBIDANAN

TAHUN 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

 

 

Karya Tulis Ilmiah berjudul ”Faktor Risiko Umur Ibu Hamil Terhadap Kejadian Pre Eklampsia-Eklampsia Di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2006” ini telah mendapat persetujuan pada tanggal 4 Agustus 2007

 

 

 

 

Menyetujui

 

 

Pembimbing Utama,                                 Pembimbing Pendamping,

 

 

 

Margono, S.Pd, APP                         Sabar Santoso, S.Pd, APP, M.Kes

NIP. 140 175 202                                              NIP. 140 110 019

 

 

 

 

Mengetahui

Ketua Jurusan Kebidanan

Politeknik Kesehatan Yogyakarta

 

 

 

Siti Tyastuti. S,Kep, Ns. S,ST

NIP. 140 111 031

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENGESAHAN

 

KARYA TULIS ILMIAH

 

Faktor Risiko Umur Ibu Hamil Terhadap Kejadian Pre Eklampsia-Eklampsia Di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2006.

 

Disusun Oleh :

 

BENNY KARUNIAWATI

NIM :P.07124004198

 

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

Pada Tanggal : 13 Agustus 2007

 

SUSUNAN DEWAN PENGUJI :

 

 

KETUA DEWAN PENGUJI

 

Nining Wiyati S.Pd, APP, M.Kes.                           ………………………………

NIP. 140 098 197

 

Penguji I,

 

Margono S.Pd, APP.                                                ………………………………

NIP. 140 175 202

 

Penguji II,

 

Sabar Santoso, S.Pd, APP, M.Kes                        ……………………………….

NIP. 140 110 019

 

Direktur

Politeknik Kesehatan Yogyakarta

 

 

 

 

Dr. Lucky Herawati, SKM, M.Sc.

NIP. 140 066 691

INTISARI

 

 

Latar Belakang :Dinkessos DIY 2005, melaporkan bahwa angka kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo meningkat dari tahun 2004 yaitu 6,75% menjadi 8,65% pada tahun 2005, 49% lebih tinggi dari RSUD lainnya di Yogyakarta dan lebih tinggi dari RSUP DR. Sardjito yang merupakan rumah sakit rujukan di Propinsi DIY yaitu sebesar 34%.

 

Tujuan Penelitian  : Untuk mengetahui besar faktor risiko umur ibu pada saat hamil terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia.

 

Metode Penelitian  : Penelitian analitik observasional dengan pendekatan case control.   Lokasi penelitian di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo.  Pengambilan sampel dengan purposive sampling yang dibatasi kriteria inklusi dan eksklusi.   Uji analisis dengan menghitung Chi kuadrat untuk mengetahui adanya hubungan umur ibu hamil dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia kemudian menghitung ratio odds untuk mengetahui besar faktor risiko dengan interval kepercayaan 95% dan tingkat kesalahan 5%.  Setelah dikenai kreteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel kasus penelitian 40 responden dan sampel kontrol 120 responden yang diambil secara acak.  Dari 40 responden sampel kasus terdapat 25 responden (62,5%) dengan umur berisiko, sedangkan pada sampel kontrol umur yang tidak berisiko lebih besar yaitu dari 120 responden terdapat 81 responden (67,5%).

 

Hasil : Didapatkan harga Chi kuadrat hitung sebesar 11,25 dan selanjutnya dibandingkan dengan harga Chi kuadrat tabel pada derajat kebebasan 1 dengan taraf kesalahan 5% yaitu sebesar 3,841 maka harga Chi kuadrat hitung lebih besar dari harga Chi kuadrat tabel, dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima, maka menunjukkan ada hubungan antara umur ibu hamil dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia.  Hasil perhitungan ratio odds didapatkan angka sebesar 3,46 pada umur kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun dengan distribusi pada umur kurang 20 tahun ratio odds sebesar 12,6 dan umur lebih 35 tahun mempunyai ratio odds 2,7 lebih berisiko dari umur 20 sampai 35 tahun.

 

Kesimpulan : Ibu hamil yang memiliki umur berisiko (kurang 20 tahun dan lebih dari 35 tahun) mempunyai resiko 3,46 kali lebih besar untuk terjadi pre eklampsia-eklampsia.

 

Kata Kunci : Faktor risiko umur ibu hamil, pre eklampsia-eklampsia.

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas penulisan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Faktor Risiko Umur Ibu Hamil terhadap Kejadian Pre Eklampsia-Eklampsia Di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2006” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Karya Tulis Ilmiah ini disusun untuk ketentuan salah satu syarat mencapai Gelar Ahli Madya Kebidanan pada Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Yogyakarta.

Karya Tulis Ilmiah ini terwujud atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :

  1. Dr. Lucky Herawati, SKM, M.Sc, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Yogyakarta.
  2. dr. Bambang Haryatno, M.Kes, selaku Direktur RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo yang telah memberi ijin tempat penelitian.
  3. Siti Tyastuti S,Kep.Ns, S,SiT selaku Direktur Jurusan Kebidanan yang telah memberikan ijin penelitian.
  4. Margono, S.Pd, APP selaku dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan saran dan masukan sehingga terselesaikannya Karya Tulis Ilimiah ini.
  5. Sabar Santoso, S.Pd, APP, M.Kes selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan saran dan masukan sehingga terselesaikannya Karya Tulis Ilimiah ini.
  6. Nining W, S.Pd, APP, M.Kes selaku penguji yang telah memberikan saran dan masukan sehingga terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah ini.
  7. Heni Puji W, S.SiT yang telah banyak memberikan saran dan masukan  sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan.
  8. Orang tua serta adik-adik yang selalu memberikan dukungan , do’a dan semangat kepada penulis selama ini.
  9. Semua pihak yang membantu penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis menyadari dalam Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan, karena keterbatasan kemampuan maupun pengalaman penulis, untuk itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan terselesaikannya pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.

 

      Yogyakarta, 12 Juni 2007

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1  :   Distribusi   frekuensi   responden  berdasarkan paritas   

 di     RSUD     Wates      Kabupaten      Kulon      Progo

    Tahun 2006 ………………………………………………………35

 

Tabel 2  :  Distribusi   frekuensi    responden    kasus  berdasarkan

umur ibu saat hamil di RSUD Wates   Kabupaten  Kulon

Progo Tahun 2006 ……………………………………………….35

 

Tabel 3  : Distribusi frekuensi responden kasus berdasarkan umur

ibu   saat  hamil   kurang   20   tahun dan  lebih 35 tahun

di RSUD    Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2006 …….36

 

Tabel 4  : Distribusi   frekuensi   responden  kontrol    berdasarkan

umur ibu   saat hamil  di RSUD Wates Kabupaten Kulon 

Progo Tahun 2006 ………………………………………………..36

 

Tabel 5  : Distribusi   frekuensi    responden   kontrol  berdasarkan

     umur ibu saat hamil kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun

     di RSUD Wates Kabupaten Kulon  Progo Tahun 2006 ………37

 

Tabel 6  : Cross  tabel   umur   ibu   saat   hamil   dengan  kejadian

pre  eklampsia-eklampsia  di  RSUD   Wates  Kabupaten

Kulon Progo. ………………………………………………………38

 

Tabel 7  : Cross  tabel   umur  ibu  saat   hamil   kurang  20   tahun

dengan   kejadian   pre  eklampsia-eklampsia   di  RSUD

Wates Kabupaten Kulon Progo. …………………………………39

 

Tabel 8  : Cross   tabel umur  ibu saat hamil lebih 35 tahun dengan

kejadian   pre eklampsia-eklampsia    di   RSUD    Wates

Kabupaten Kulon Progo. …………………………………………40

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

 

Gambar 1 : Kerangka Teori   ……………………………………………..     22

Gambar 2 : Kerangka Konsep Penelitian  ………………………………     23

Gambar 3 : Design Penelitian ……………………………………………     25

                                                                                                                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

Lampiran 1 : Format Pengumpulan Data

Lampiran 2 : Jadwal Penelitian

Lampiran 3 : Rencana Anggaran Penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.     Latar Belakang

Pemerintah Indonesia telah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS) yang merupakan bagian dari Safe Motherhood, yang bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dengan pelaksanaan sesuai dengan tiga kunci MPS, yaitu : (1)  Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, (2)  Setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapat pelayanan yang akurat,  (3)  Setiap wanita subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran (Depkes RI, 2003).

Indikator keberhasilan derajat kesehatan adalah dengan melihat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003, Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian bayi (AKB) yaitu 35 per 1000 kelahiran hidup.  Sedangkan AKI di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2003 sebanyak 110 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes. Propinsi DIY, 2004).

Penyebab kematian ibu merupakan masalah kompleks  yang dapat digolongkan menjadi 3 determinan dekat.  Penyebab kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, pre eklampsia-eklampsia serta persalinan macet (Saefuddin, 2003).   Sedangkan penyebab tidak langsung AKI adalah “empat terlalu” yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, terlalu banyak anak (Senewe, 2003).

Kehamilan merupakan suatu proses reproduksi yang perlu perawatan khusus agar berlangsung dengan baik.  Resiko kehamilan bersifat dinamis, karena ibu yang pada mulanya normal secara tiba-tiba dapat menjadi beresiko tinggi. Faktor resiko kejadian pre eklampsia-eklampsia pada ibu hamil adalah umur, paritas, malnutrisi, kehamilan ganda, riwayat keluarga pre eklampsia-eklampsia, penyakit ginjal, penyakit vaskuler, DM (Manuaba, 2003).

Pre eklampsia-eklampsia merupakan salah satu determinan dekat penyebab kematian ibu setelah perdarahan.  Angka pre eklampsia-eklampsia di dunia sebesar 3-10% (Saefuddin, 2003).

Angka kejadian dibeberapa Rumah Sakit di Indonesia cenderung meningkat yaitu 1,0-1,5% pada sekitar 1970-1980 meningkat menjadi 4,1-4,3% pada sekitar 1990-2000 (Saefuddin, 2003)  insiden pre eklampsia berkisar 10-13% dari keseluruhan ibu hamil.   Rumah Sakit Pendidikan Makasar, insiden pre eklampsia berat 2,61%, eklampsia 0,84% dan angka kematian akibat pre eklampsia-eklampsia 22,2% (Sudinaya,2000) serta penelitian yang dilakukan oleh Wibowo B.(1995) di RS Karyadi Semarang mengatakan bahwa pre eklampsia-eklampsia terjadi pada umur berisiko (kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun) yaitu sebesar 58,3%.

Pre eklampsia adalah hipertensi akibat kehamilan dengan proteinurina dan atau oedema yang terjadi pada kehamilan setelah umur 20 minggu, bersalin atau nifas, menyertai pre eklampsia dan bukan karena kelainan neurologik.  Eklampsia adalah timbulnya kejang pada penderita pre eklampsia yang disusul dengan koma.   Komplikasi dari pre eklampsia-eklampsia antara lain : solusio plasenta, hipofibrinogenemia, hemolisis, kelainan mata, kelainan ginjal dan prematuritas (Sarwono, 2003).

Usia aman untuk hamil dan bersalin adalah 20-35 tahun dan kematian pada ibu hamil dan bersalin di bawah usia 20 tahun dan diatas 35 tahun 2-5 kali lebih tinggi (Sarwono, 2003).   Kehamilan pada usia diatas 35 tahun mempunyai resiko untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan antar perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam kehamilan, distosia dan partus lama.   Pada usia tua meskipun mental dan sosial ekonomi lebih mantap dibandingkan dengan usia muda tetap fisik mengalami kemunduran (Rochjati, 1994).   Menurut Chesley (1995) Pre ekalampsia-eklampsia hampir selalu merupakan penyakit wanita nullipara meskipun pre eklampsia lebih sering didapatkan pada awal dan akhir usia reproduktif, yaitu usia remaja atau usia diatas 35 tahun, namun pre eklampsia diatas 35 tahun biasanya menunjukkan hipertensi yang diperberat oleh kahamilan. Insiden pre eklampsia-eklampsia tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua.   Pada wanita hamil usia kurang dari 20 tahun insiden lebih dari 3 kali lipat (Manuaba, 2003).

Angka Kematian Ibu akibat pre eklampsi-eklampsia di Indonesia berkisar antara 9,8-25,5% dan angka kematian ini merupakan kematian obstetrik langsung dari komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas (Rachimhadhi, 2003).   Insiden pre eklampsia-eklampsia di Yogyakarta 7,9% dari seluruh persalinan dan angka kematian ibu akibat eklampsia adalah 25% (Dinkessos Propinsi DIY, 2004).

Di Rumah Sakit Umum daerah Kulon Progo angka kejadian pre eklampsia-eklampsia setiap tahun mengalami peningkatan, tahun 2004 61 kasus dari 904 persalinan (6,74%), dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 83 kasus dari 959 persalinan (8, 65%).  Diantara kelima RSUD di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, RSUD Wates menduduki tingkat tertinggi yaitu 49% dari seluruh kasus pre eklampsia-eklampsia di RSUD wilayah Propinpisi Yogyakarta pada tahun 2005 dan lebih tinggi dibandingkan RS Sardjito yang merupakan rumah sakit rujukan di Propinsi DIY yaitu sebesar 34%.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang faktor resiko umur ibu hamil terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo tahun 2006.

 

 

  1. B.    Rumusan Masalah

 Usia dapat mempengaruhi kejadian pre eklampsia-eklampsia pada ibu hamil terutama usia kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun.  Pre eklampsia-eklampsia merupakan salah satu determinan dekat yang menyebabkan kematian ibu.  Insiden pre eklampsia-eklampsia dari tahun ketahun meningkat khususnya Rumah Sakit Daerah Kulon Progo yaitu 49% dan menduduki angka tertinggi dibanding keempat RSUD di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2005 dan juga lebih tinggi dibanding Rs rujukan Dr. Sardjito  Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah umur ibu hamil merupakan faktor resiko terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo tahun 2006?”.

 

  1. C.    Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum

Mengetahui umur ibu hamil sebagai faktor resiko terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo tahun 2006.

  1. Tujuan Khusus

a)     Mengetahui angka kejadian pre eklampsia-eklampsia pada kelompok ibu post partum  dengan umur kurang 20 tahun.

b)     Mengetahui angka kejadian pre eklampsia-eklampsia pada kelompok ibu post partum  dengan umur lebih 35 tahun.

c)      Mengetahui angka kejadian pre eklampsia-eklampsia pada kelompok ibu post partum dengan umur 20 tahun sampai 35 tahun.

d)     Mengetahui angka kejadian pre eklampsia-eklampsia pada kelompok ibu post partum  dengan umur kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun.

e)     Untuk mengetahui besar ratio odds pada kelompok umur kurang 20 tahun, lebih 35 tahun, dan ratio odds seluruhnya dari umur kurang 20 dan lebih 35 tahun terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo tahun 2006.

 

  1. D.    Manfaat Penelitian
    1. Manfaat  Praktis

a)     RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo

Dapat memberikan informasi tentang faktor resiko umur ibu hamil terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap ibu hamil dan meningkatkan intensitas tindakan terutama pada kasus pre eklampsia-eklampsia.

b)     Bidan, Dokter dan tenaga kesehatan terkait

Dapat memberikan informasi kepada tenaga kesehatan tentang faktor resiko umur terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan khususnya pada ibu hamil dengan umur yang beresiko terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia (umur kurang 20 dan lebih 35 tahun).

  1. Manfaat Teoritis

a)     Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai informasi ilmu pengetahuan khususnya kebidanan sehingga dapat menambah wawasan pengetahuan tentang adanya faktor resiko umur dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia.

b)     Informasi yang diberikan dapat dijadikan acuan peneliti lebih lanjut tentang faktor umur ibu hamil terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia.

 

  1. E.     Keaslian Penelitian

Penelitian yang sudah dilakukan adalah :

  1. Eni Margiwiyati, 2005, “Karakteristik ibu bersalin dengan pre eklampsia-eklampsia di RSUD Sleman tahun 2004”.  Bertujuan mengetahui bagaimana karakteristik ibu berslin dengan pre eklampsia-eklampsia.   Metode diskriptif dengan data sekunder.  Instrument penelitian study dokumentasi dan analisa data yang digunakan interpretasi prosentase karakteristik ibu bersalin dengan pre eklampsia-eklampsia.  Hasil penelitian bahwa paritas 1 sejumlah 1 orang, paritas 2-4 sejumlah 38 orang, paritas >5 sejumlah 0.  Perbedaan dengan penelitian ini adalah tempat, waktu, variabel yang diteliti dan analisis data yang digunakan.
  2. Sari Andriani, 2006,”Studi faktor resiko paritas ibu bersalin terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo tahun 2005”.   Metode analitik dengan rancangan case control dan jenis data sekunder.   Instrument penelitian study dokumentasi dan analisa data dengan mencari nilai odds ratio.   Hasil penelitian adanya hubungan bermakna antara paritas dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia, dan besar resiko paritas ibu bersalin terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia sebesar 2,45.  Perbedaan dengan penelitian ini adalah waktu dan variabel independen yang diteliti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

 

  1. A.     Landasan Teori
    1. 1.      Pre eklampsia-eklampsia
      1. Pengertian Pre eklampsia-eklampsia

      Pengertian pre eklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, oedema, proteinuria yang timbul karena kehamilan.   Penyakit ini umumnya terjadi pada triwulan ketiga kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada molahidatidosa (Wiknjosastro, 1999).

Pre eklampsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari trias hipertensi, proteinuria, dan eodema (Muchtar, 1998).

Pre eklampsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai proteinuria, oedema, atau keduanya dapat terjadi akibat kehamilan setelah 20 minggu atau kadang-kadang timbul lebih awal terdapat hidatiformis yang luas pada vili khorialis (Cunningham, 1995).

Pre eklampsia adalah sindrom yang terdiri atas kenaikan tekanan darah, proteinuria dan oedema (atau dua dari tiga gejala ini) yang sering dapat mendahului (Farer, 1999) dan Varney (2002) menambahkan bahwa pre eklampsia terjadi setelah usia gestasi 20-40 minggu, kecuali jika terdapat penyakit tropoblastik, sedangkan Wibisono (1997) menambahkan bahwa hipertensi akibat kehamilan dengan proteinuria, oedema setelah usia 20 minggu dan bukan karena kelainan neurologik.  Namun pre eklampsia juga dapat terjadi pada saat persalinan sampai dengan 10 hari post partum (Sarwono, 2003).

  1. Pengertian Eklampsia

            Eklampsia merupakan gejala yang lebih berat dan berbahaya dari pre eklampsia, dengan tambahan gejala-gejala tertentu (Wiknjosastro, 1999) dan Cunningham (1995) menambahkan bahwa eklampsia ditandai dengan gejala tonik klonik menyeluruh yang terjadi pada wanita hamil dengan hipertensi yang diperberat oleh kehamilan, kadang-kadang disertai dengan koma.

Eklampsia berasal dari bahasa Yunani yang berarti halilintar karena gejala eklampsia datang dengan mendadak dan menyebabkan suasana gawat dalam kebidanan.   Kelanjutan pre eklampsia berat menjadi eklampsia dengan tambahan gejala kejang-kejang dan atau koma.   Eklampsia didiagnosa jika pre eklampsia berkembang menjadi kejang biasanya terjadi terutama pada persalinan, dapat terjadi sampai 10 hari post partum, namun dapat juga terjadi pada saat hamil (Manuaba, 2003).

 

  1. Etiologi

            Sampai saat ini, etiologi pasti dari pre eklampsia-eklampsia belum diketahui. Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan perkiraan dari etiologi pre eklampsia-eklampsia, sehingga kelainan tersebut  sering disebut the diseases of teory (Sudinaya, 2000).

      Teori tersebut antara lain :

  1. Peran prostasiklin dan tromboksan

pada pre eklampsia-eklampsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadi penurunan prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan fibrinolisis, yang kemudian akan diganti dengan trombin dan plasmin.

  1. Peran faktor imunologis

Pre eklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya, hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya.

 

 

 

  1. Peran faktor genetik/familia

Terdapat kecenderungan meningkatnya frekuensi pre eklampsia-eklampsia pada anak dan cucu ibu hamil yang menderita pre eklampsia.

  1. Faktor Predisposisi
    1. Usia

Usia dibawah 20 tahun bukan masa yang baik untuk hamil karena organ-organ reproduksi belum sempurna, hal ini tentu akan menyulitkan proses kehamilan dan persalinan.  Sedangkan kehamilan pada usia diatas 35 tahun mempunyai resiko untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan antara lain perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam kehamilan, distosia dan partus lama.  Hipertensi pada kehamilan paling sering mengenai wanita yang lebih tua, yaitu dengan bertambahnya usia menunjukkan peningkatan insiden hipertensi kronis mengahadapi resiko yang lebih besar untuk menderita hipertensi karena kehamilan.   Wanita hamil dengan usia kurang dari 20 tahun insidens pre eklampsia-eklampsia lebih dari 3 kali lipat.  Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten (Manuaba,2003).  Oleh karena itu semakin lanjut usia maka kualitas sel telur sudah berkurang hingga berakibat juga menurunkan kualitas keturunan yang dihasilkan.   Sementara usia dibawah 20 tahun bukan masa yang baik untuk hamil karena organ-organ reproduksi belum sempurna, hal ini tentu akan menyulitkan proses kehamilan dan persalinan.

  1. Sosial Ekonomi

Beberapa ahli menyimpulkan bahwa wanita dengan sosio ekonomi yang lebih baik akan lebih jarang menderita pre eklampsia, bahkan setelah faktor ras ikut diperhitungkan (mungkin ada perbedaan perlakuan / akses terhadap berbagai etnik di banyak negara (Cunningham,1995).

  1. Paritas

Menurut Chesley pengaruh paritas sangat besar dalam terjadinya pre eklampsia atau hipertensi pada kehamilan.   Hipertensi pada kehamilan sering ditemukan pada wanita nulipara. Pre eklampsia lebih banyak terjadi pada primigravida dibandingkan multigravida.  Insiden tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua (Manuaba, 2003).

  1. Riwayat keluarga dengan pre eklampsia-eklampsia

Jika ada riwayat pre-eklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat sampai diatas 25%.  Faktor gen diduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang ditentukan genotip ibu dan janin (Manuaba, 2003).

  1. Malnutrisi

      Hasil pengamatan menyebutkan bahwa makanan yang kurang mengandung protein sebagai penyebab peningkatan insiden eklampsia (Cunningham,1995).

  1. Penyakit Ginjal

Pada pre eklampsia-eklampsia, arus darah efektif ginjal berkurang lebih dari 20%, filtrasi glomerulus berkurang lebih dari 30%.  Pada kasus berat terjadi oligouria, uremia, sampai nekrosis tubular akut dan nekrosis korteks renalis.  Ureum-kreatinin meningkat jauh diatas normal.  Terjadi juga peningkatan pengeluaran protein.

  1. Kehamilan ganda

Protein urin dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar (Manuaba, 2003).

  1. Mola Hidatidosa

Diduga degenerasi trofoblas berlebihan berperan menyebabkan pre eklampsia-eklampsia.  Pada kasus mola hipertensi dan protein urin terjadi lebih awal (Manuaba, 2003).

  1. Diabetes Militus

Kemungkinan patofisiologinya bukan pre eklampsia murni, melainkan disertai kelainan ginjal/vaskuler primer akibat diabetesnya (Manuaba,2003).

10. Bayi dengan hidropfetalis

11. Penyakit vaskuler

Lebih dari 1/3 pasien pre eklampsia terjadi pembalikan ritme diurnal, tekanan darah naik pada malam hari.   Juga terdapat lama perubahan siklus diurnal menjadi 20 jam pre hari, dengan penurunan selam tidur, yang mungkin disebabkan perubahan dipusat pengatur tekanan darah atau pada reflek baroreseptor.

  1. Patofisiologi Pre eklampsia-Eklampsia

            Vasospasme merupakan patofisiologi untuk pre eklampsia-eklampsia.   Konsep ini pertama kali ditemukan oleh Volhard tahun 1918 (Cit. Cunningham, 1995).   Dibuat berdasarkan hasil pengamatan langsung terhadap pembuluh darah dasar kecil pada pangkal kuku, fundus okuli sert konjungtiva bulbi dan juga sudah diperkirakan dari perubahan histology pada berbagai organ yang terkena.  Penyempitan vaskuler menyebabkan hambatan aliran darah dan menerangkan proses terjadinya hipertensi arterial. Kemungkinan vasospasme juga membahayakan, pembuluh darah sendiri terkena pembuluh darah dalam vasa vasorum terganggu sehingga terjadi kerusakan vaskuler (Cunningham, 1995).

            Perdarahan, infark, nekrosis, dan trobosis pembuluh darah kecil ditemukan dalam berbagai alat tubuh serta penimbunan fibrin dalam pembuluh darah, hal ini mungkin sekali dapat disebabkan oleh vaso spasme arteriola.  Akibat dari vasospasme dapat terjadi perubahan baik anatomi maupun fisiologik dari organ-organ sebagai berikut :

  1. 1.      Plasenta, pada pre eklampsia terdapat spasmus arterioleaspiralis desidua dengan akibat menurunnya pembuluh darah ke plasenta.   Hal ini disebabkan karena arteria spiralis mengalami kontriksi dengan penyempitan akibat arteriosis akut disertai necritizing arteriophaty.   Menurunnya  aliran darah ke plasenta mengkibatkan gangguan fungsi dari plasenta.   Pada hipertensi yang lebih pendek bias terjadi gawat janin sampai kematian karena kekurangan oksigenasi. 
  2. 2.      Ginjal, menunjukkan perubahan berupa : kelainan glomerulus, hyperplasia sel-sel jukstaglomerulus, kelainan-kelainan pada tubulus-tubulus henle dan spamus pembuluh darah ke glomerulus berkurang, terdapatnya proteinuria serta terjadi retensi garam dan air. 
  3. 3.      Hati, terjadi perubahan tes faal dan keutuhan hepar pada pemeriksaan mikroskopis pada tepi tubulus. 
  4. 4.      Otak, pada keadaan yang belum lanjut hanya ditemukan oedema dan anemia pada korteks serebri dan pada keadaan yang lanjut ditemukan perdarahan.  Aliran darah ke otak dan pemakaian oksigen pada pre eklampsia tetap pada batas normal, pemakaian oksigen menurun hanya karena eklampsia. 
  5. 5.      Retina, dapat terlihat oedema pada discus optikus dan retina, ablosia retina dapat terjadi sehingga dapat menyebabkan kebutaan tetapi tidak menetap dan penglihatan dapat kembali sekitar 1  minggu.
  6. 6.      Paru-paru, dapat terjadi oedema yang merupakan sebab utama kematian penderita pre eklampsia dan eklampsia.   Komplikasi ini biasanya karena dekompensasi kordis kiri.
  7. 7.      Jantung, mengalami perubahan degeneratif pada miokardium serta terdapatnya perubahan sub endokarial disebelah kiri septum interventrikuler.
  8. 8.      Kelenjar drenal, dapat menunjukkan kelainan berupa perdarahan dan nekrosis dalam berbagai tingkat (Rachimhadi, 2003).

Hemokonsentrasi yang menyertai pre eklampsia-eklampsia belum diketahui sebabnya. Kenyataan tidak ada hipervolemia pada kehamilan sangat besar kemungkinannya terjadi akibat vaso kontriksi menyeluruh atau akibat peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga menyebabkan jumlah cairan intravaskuler lebih sedikit dan jumlah cairan vaskuler berlebihan.   Hal ini menyebabkan pada pre eklampsia-eklampsia lebih peka terhadap kehilangan darah sekalipun.   Selain itu juga terdapat perubahan hematologist berupa trombositopenia, kadang sebagaian pembekuan menurun dan eritrosit mengalami trauma sehingga mudah berubah bentuk dan cepat mengalami hemolisis serta terdapat perubahan kadar renin, angitensin II dan aldosteron dalam plasma yang menurun sehingga mendekati rentang nilai normal seperti wanita hamil yang seharusnya meningkat selama kehamilan normal (Cunningham, 1995).

  1. Gambaran Klinik dan Diagnosa

1)     Pre eklampsia

               Dua gejala penting dan tidak disadari oleh wanita hamil adalah hipertensi dan proteinuria (Cunningham,1995).  Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan bisa 2 pon/minggu atau 3 kg/bulan, diikuti oedema, hipertensi dan adanya proteinuria.

               Diagnosis pre eklampsia pada umumnya didasarkan atas adanya 2 dari trias tanda utama yaitu hipertensi, proteinuria dan oedema.  Tetapi adanya satu tanda harus menimbulkan suatu kewaspadaan (Rachimhadi, 2003).

 

 

2)     Eklampsia

               Eklampsia ditandai dengan gejala kejang tonik klonik menyeluruh yang terjadi pada wanita hamil dengan hipertensi diperberat oleh kehamilan, kadang-kadang disertai dengan koma (Cunningham,1995).

 

  1. 2.      Hubungan usia dengan Kejadian Pre eklampsia-Eklampsia

Kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia 20-35 tahun, usia ini merupakan usia yang tidak beresiko sedangkan usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun meningkatkan kejadian komplikasi kehamilan (Manuaba, 2003).  Menurut Wahyudi (2000) saat terbaik bagi seorang perempuan untuk hamil adalah saat usia 20-35 tahun.   Sel telur sudah diproduksi sejak dilahirkan namun baru terjadi ovulasi ketika masa pubertas, sel telur yang keluar hanya satu setiap bulannya, ini menunjukkan adanya unsur seleksi yang terjadi hingga diasumsikan sel telur yang berhasil keluar adalah sel telur yang unggul.   Oleh karena itu semakin lanjut usia maka kualitas sel telur sudah berkurang hingga berakibat juga menurunkan kualitas keturunan yang dihasilkan.   Sementara usia dibawah 20 tahun bukan masa yang baik untuk hamil karena organ-organ reproduksi belum sempurna, hal ini tentu akan menyulitkan proses kehamilan dan persalinan.

Usia aman untuk hamil dan bersalin adalah 20-35 tahun dan kematian pada ibu hamil dan bersalin di bawah usia 20 tahun dan diatas 35 tahun 2-5 kali lebih tinggi (Sarwono, 2003).   Kehamilan pada usia diatas 35 tahun mempunyai resiko untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan antar perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam kehamilan, distosia dan partus lama.  Pada usia tua meskipun mental dan sosial ekonomi lebih mantap dibandingkan dengan usia muda tetap fisik mengalami kemunduran (Rochjati, 1994).   Menurut Chesley (1995) Pre ekalampsia-eklampsia hampir selalu merupakan penyakit wanita nullipara meskipun pre eklampsia lebih sering didapatkan pada awal dan akhir usia reproduktif, yaitu usia remaja atau usia diatas 35 tahun, namun pre eklampsia diatas 35 tahun biasanya menunjukkan hipertensi yang diperberat oleh kahamilan.

Insidens pre eklampsia-eklampsia tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua.  Pada wanita hamil berusia kurang dari 20 tahun insidens lebih dari 3 kali lipat.   Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.  Hipertensi pada kehamilan paling sering mengenai wanita nulipara, wanita yang lebih tua, yaitu dengan bertambahnya usia menunjukkan peningkatan insiden hipertensi kronis menghadapi resiko yang lebih besar untuk menderita hipertensi karena kehamilan.  Insiden hipertensi karena kehamilan pada wanita muda tidak lebih tinggi (Manuaba, 2003).  Resiko paling besar yang harus dihadapi ibu yang telah berumur diatas 35 tahun adalah mempunyai anak dengan syndroma down.  Resiko ini meningkat dengan bertambahnya usia.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.    Kerangka Teori

Ras

Usia (<20 dan >35 th)

Faktor Predisposisi

Perbedaan perlakuan

Sosial ekonomi rendah

 

 

 

Faktor perilaku dan lingkungan :

Malnutrisi

Asupan protein rendah

Pre eklampsia-eklampsia

 

-   Paritas 0 atau ≥5

-   Kehamilan ganda

-   Molahidatidosa

-   Hidropfetalis

-   Penyakit keluarga dgn pre eklampsia-eklampsia

-   Penyakit vaskuler

 

Ureum kreatinin dan protein urin meningkat

 

 

Penyakit ginjal

Gambar 1: Kerangka teori modifikasi dari Manuaba (1998)

dan Sarwono (2003)

 

 

 

 

  1. C.   

    Pre eklampsia-eklampsia

     

    Tidak pre eklampsia-eklampsia

    Kerangka Konsep

Umur <20 th dan >35 th

 

 

Umur 20 th – 35 th

 

 

 

 

 

 

 

  

      Independent                                                         Dependent

-         Paritas

-         Malnutrisi

-         Ras

-         DM

-         Molahidatidosa

-         Hidropfetalis

-         Kehamilan ganda

-         Penyakit ginjal

-         Penyakit vaskuler

-         Riwayat keluarga dengan pre eklampsia-eklampsia

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                            Dikendalikan

 

Gambar 2: kerangka konsep penelitian

Keterangan :

Diteliti                   :

Dikendalikan       :

 

  1. D.    Hipotesis
    1. Umur ibu hamil merupakan faktor risiko kejadian pre eklampsia-eklampsia.
    2. Umur ibu hamil kurang 20 tahun lebih berisiko terjadi pre eklampsia-eklampsia dibandingkan dengan umur lebih 35 tahun.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

 

  1. A.     Jenis Penelitian

            Jenis penelitan ini adalah penelitian analitik observasional.  Penelitian analitik yaitu penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain (Notoatmodjo, 2002).  Sedangkan observasional yaitu melakukan pengamatan ataupun pengukuran terhadap berbagai variabel subyek penelitian menurut keadaan alamiahnya, tanpa melakukan manipulasi atau intervensi (Sastroasmoro, 2002).

 

  1. B.    Design Penelitian

            Penelitian ini menggunakan design retrospektif (case-control).  Case control yaitu penelitian (survey) analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan “retrospective” dengan kata lain efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini kemudian faktor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu (Notoatmojo, 2002).  Sehingga dapat dibuat design penelitian sebagai berikut :

 

 

Apakah umur merupakan faktor risiko?

Ditelusuri retrospektif

Penelitian dimulai disini

Pre eklampsia-Eklampsia

Umur ibu hamil yang berisiko (<20 thn dan >35 thn)

Umur ibu hamil yang tidak berisiko (20 thn -35 thn)

 

Tidak pre eklampsia-Eklampsia

 

Umur ibu hamil yang berisiko (<20 thn dan >35 thn)

 

Umur ibu hamil yang tidak berisiko (20 thn -35 thn)

 

Gambar 3 : Design Penelitian

 

  1. C.    Variabel Penelitian

            Variabel adalah sebagai obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002).  Pada penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu :

  1. Variabel independen adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (Sugiyono, 2002).   Variabel independen dalam penelitian ini adalah umur ibu hamil.
  2. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2002).

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pre eklampsia-eklampsia.

 

  1. D.    Definisi Operasional

      Definisi operasional yaitu ruang lingkup pengertian variabel-varibel yang diamati (Sugiyono,2002).   Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :

  1. Umur ibu hamil

Umur ibu yang dimaksud adalah umur saat hamil yang dihitung dari HPMT hingga 2 hari post partum yang didapat dari catatan rekam medis di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo, dibuat skala nominal dengan kasifikasi sebagai berikut :

1)     Umur beresiko <20 dan >35 tahun.

2)     Umur tidak beresiko 20-35 tahun.

  1. Pre eklampsia-Eklampsia

Pre eklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, oedema dan proteinuria yang timbul akibat kehamilan, sedangkan eklampsia ditandai dengan gejala tonik klonik menyeluruh yang terjadi pada wanita hamil dengan hipertensi yang diperberat oleh kehamilan. Pre eklampsia-eklampsia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pre eklampsia-eklampsia yang ditentukan berdasarkan diagnosis yang terdapat dalam catatan rekam medik, kelompok kasus dalam penelitian ini adalah kejadian pre eklampsia atau eklampsia yang terjadi pada rentang waktu dari hamil sampai dengan hingga 2 hari post partum, sedangkan yang menjadi kontrol dalam penelitian ini adalah tidak pre eklampsia atau eklampsia selama hamil hingga 2 hari post partum yang terdapat dalam catatan rekam medik RSUD Wates.  Perbandingan kelompok kasus dan kontrol 1:3. Pre eklampsia-eklampsia dibuat skala nominal :

1)     Pre eklampsia-eklampsia

2)     Tidak pre eklampsia-eklampsia

 

  1. E.     Populasi dan Sampel Penelitian
  2. Populasi

            Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek dan subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2002).

            Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu post partum di RSUD Wates selama kurun waktu 1 tahun antara 1 Januari sampai 31 Desember pada tahun 2006 sebanyak 1.234 ibu bersalin.

  1. Sampel

            Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2002).  Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik Purposive sampling yaitu pengambilan sampel terhadap populasi dilakukan dengan kriteria tertentu (Notoatmojo, 2002), sedangkan untuk pengambilan sampel kontrol diambil secara acak setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. 

Sampel kasus dalam penelitian ini adalah pre eklampsia atau eklampsia yang terjadi selama hamil hingga 2 hari post partum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut :

a)     Kriteri inklusi

1)     Ibu post partum dengan riwayat persalinan janin tunggal.

2)     Ibu post partum dengan paritas 1-4.

3)     Catatan rekam medik lengkap.

b)     Kriteria Eksklusi

1)     Ibu post partum dengan penyakit ginjal.

2)     Ibu post partum dengan penyakit DM.

3)     Ibu post partum dengan penyakit vaskuler.

4)     Ibu post partum dengan mola hidatidosa.

5)     Ibu post partum dengan riwayat keluarga pre eklampsia-eklampsia.

Setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini didapatkan sampel kasus sebanyak 40 responden.

Sampel kontrol dalam penelitian ini adalah tidak pre eklampsia-eklampsia yang terjadi selama hamil hingga 2 hari post partum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut :

a)     Kriteri inklusi

1)     Ibu post partum dengan riwayat persalinan janin tunggal.

2)     Ibu post partum dengan paritas 1-4.

3)     Catatan rekam medik lengkap.

c)      Kriteria Eksklusi

1)     Ibu post partum dengan penyakit ginjal.

2)     Ibu post partum dengan penyakit DM.

3)     Ibu post partum dengan penyakit vaskuler.

4)     Ibu post partum dengan mola hidatidosa.

5)     Ibu post partum dengan riwayat keluarga pre eklampsia-eklampsia.

Setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini didapatkan sampel kontrol sebanyak 120 responden.

 

  1. F.     Lokasi dan Waktu Penelitian

            Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20-22 Februari tahun 2007 di Rumah Sakit Umum Daerah Kulon Progo.

 

  1. G.    Jenis dan Cara Pengumpulan Data
  2. Jenis Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder, data dikumpulkan dari catatan rekam medik ibu post partum di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo.

 

 

  1. Cara Pengumpulan Data

a)     Melakukan pemeriksaan data yang ada di register bangsal kenanga dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember 2006.

b)     Melakukan pencatatan nomor rekam medik ibu post partum yang mengalami pre eklampsia atau eklampsia pada rentang waktu dari hamil sampai dengan 2 hari post partum (sebagai kasus) dan register ibu post partum yang tidak pre eklampsia atau eklampsia pada rentang waktu dari hamil sampai dengan 2 hari post partum (sebagai kontrol).

c)      Mengidentifikasi lembaran status rekam medik ibu post partum di ruang rekam medik sesuai nomor register yang diperoleh untuk mendapatkan data yang lebih lengkap.

d)     Memisahkan data untuk kelompok kasus dan kontrol sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

e)     Mengambil sampel kontrol secara simple random sampling dengan cara ordinal yaitu diambil data kelipatan 10 sampai diperoleh sampel yang diperlukan sebanyak 120.

f)        Memasukkan dalam master tabel.

  1. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan adalah format dibuat kolom-kolom atau lajur untuk mempermudah dalam mengklasifikasi variabel yang diteliti (format terlampir).

 

 

  1. H.    Pengolahan dan Analisis Data
  2. Pengolahan Data

Langkah-langkah dalam pengolahan data dalah sebagai berikut :

a)     Editing (memeriksa data), yaitu memeriksa kelengkapan data.

b)     Coding (memberikan kode), yaitu memberikan kode pada data yang sudah dinyatakan lengkap dan benar .  

c)      Transfering/Entry (memindahkan data), yaitu memindahkan data kedalam tabel.

d)     Tabulating (menyusun data), yaitu penataan data kemudian menyusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan tabel silang.

  1. Analisis Data

Analisis data kuantitatif yang dilakukan dengan dua cara, yaitu analisis univariat yang dilakukan terhadap dua variabel dari hasil penelitian dan analisis bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi.  Untuk analisis univariat akan dinyatakan dalam bentuk distribusi dan prosentase serta disajikan dalam bentuk tabel, sedangkan analisis bivariat dilakukan :

a)     Pengujian statistik dengan uji chi square (Chi kuadrat) dengan tingkat kepercayaan 95% dan p (signifikan <0,05). Derajat kebebasan yang digunakan (dk) = (m-1) (n-1).  Rumus chi square :

X2 =

      Keterangan :

            X2  : Chi square

            fo   : frekuensi yang diobservasi

            fh   : frekuensi yang diharapkan

Interpretasi hasil apabila harga x2 hitung sama atau lebih besar dari x2 tabel maka ada hubungan antara 2 variabel.  Apabila x2 hitung lebih kecil dari x2 tabel maka tidak ada hubungan antara 2 variabel, dan apabila ada hubungan maka dilanjutkan ke ratio odds.

b)     Ratio Odds

            Untuk menetapkan besarnya resiko terjadiya efek pada kasus maka digunakan ratio odds dengan bantuan tabel kontingensi 2×2 (2 baris 2 kolom) :

Faktor resiko

  Kasus Kontrol Jumlah

Ya

a

b

a+b

Tidak

c

d

c+d

Jumlah

a+c

b+d

a+b+c+d

                  Sumber : Sastroasmoro,2002

 

 

 

RO =

            Interpretasi nilai ratio odds :

            RO >1 : faktor yang diteliti merupakan faktor resiko.

            RO =1 : faktor yang diteliti bukan merupakan faktor resiko.

            RO <1 :faktor yang diteliti merupakan protektif .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

  1. A.     Hasil Penelitian
    1. 1.      Gambaran Umum Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo.   Rumah Sakit Umum Daerah Kulon Progo merupakan Rumah Sakit Tipe B berdasarkan SK Menkes No 105/menkes/SK/II/1998.   RSUD yang terletak di Jl. Tentara Pelajar KM 1 no 5 Wates.    RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo sebagai Rumah Sakit rujukan khususnya untuk wilayah Kulon Progo, mempunyai 4 spesialis dasar sebagai standarisasi Rumah Sakit tipe B yaitu pelayanan kesehatan anak, bedah, penyakit dalam dan kebidanan.   Selain itu ada pelayanan spesialis lainnya seperti THT, mata, jiwa, kulit dan kelamin, fisioterapi dan lansia, gigi, syaraf dan pelayanan diagnostik lainnya (radiology) walaupun masih bersifat part time.  Di ruang kenanga/bangsal bersalin terdapat 13 orang bidan PNS, I orang bidan kontrak, 3 orang bidan magang, 1 orang perawat PNS, 1 orang administrasi PNS dan 2 cleaning servis kontrak.

Dari pengamatan yang dilakukan secara retrospektif terhadap data yang ada pada medical record RSUD Wates kabupaten Kulon Progo dari 1 Januari sampai 31 Desember 2006 didapatkan  kejadian pre eklampsia-eklampsia sebesar 57 kasus dari 1.234 persalinan (4,62%).

  1. 2.      Hasil Penelitian

Dari pengumpulan data yang didapat, setelah dikenai kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 160 responden dengan 40 responden kasus dan 120 responden kontrol dengan karakteristik sebagai berikut :

Tabel 1 : Distribusi frekuensi responden berdasarkan paritas di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2006

 

No

Paritas

Frekuensi

Kasus

Kontrol

1

1

17 (42,5%)

54 (45%)

2

2

11 (27,5%)

41(34,2%)

3

3

5 (12,5%)

13 (10,8%)

4

4

7 (17,5%

12 (10%)

Jumlah

40 (100%)

120 (100%)

     Sumber data :sekunder 

Berdasarkan tabel 1 tersebut diatas menunjukkan bahwa pada sampel kasus, paritas terbanyak adalah paritas 1 begitu juga pada sampel kontrol, dan setelah dilakukan penghitungan paritas rata-rata pada sampel kasus 1,63 dan pada sampel kontrol paritas rata-rata adalah 1,86 yang memberi kesan bahwa paritas dalam penelitian ini   homogen.

 Tabel 2 : Distribusi frekuensi responden kasus berdasarkan umur ibu saat hamil di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2006

 

No

Umur

Frekuensi

%

1

Umur beresiko (<20 dan >35 tahun)

25

62,5

2

Umur tidak beresiko (20-35 tahun)

15

37,5

 

Jumlah

40

100

     Sumber :data sekunder

Berdasarkan tabel 2 tersebut diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada insidensi pre eklampsia-eklampsia memiliki umur beresiko (<20 dan >35 tahun) sebesar 25 responden dan umur yang tidak beresiko (20-35 tahun) sebesar 15 responden.

Tabel 3 : Distribusi frekuensi responden kasus berdasarkan umur ibu saat hamil kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2006

 

No

Umur

Frekuensi

%

1

Umur kurang 20 tahun

7

17,5

2

Umur lebih 35 tahun

18

45

3

Umur tidak beresiko (20-35 tahun)

15

37,5

 

Jumlah

40

100

     Sumber :data sekunder

Berdasarkan tabel 3 tersebut diatas menunjukkan bahwa umur ibu pada saat hamil lebih 35 tahun yang terkena pre eklampsia-eklampsia lebih banyak yaitu 18 responden dibandingkan umur kurang 20 tahun sebesar 7 responden.

Tabel 4: Distribusi frekuensi responden kontrol berdasarkan umur ibu saat hamil di RSUD Wates Kabupaten Kulon  Progo Tahun 2006

 

No

Umur

Frekuensi

%

1

Umur beresiko (<20 dan >35 tahun)

39

32,5

2

Umur tidak beresiko (20-35 tahun)

81

67,5

 

Jumlah

120

100

Sumber :data sekunder

 Sebagian responden kontrol memiliki umur yang tidak beresiko yaitu sebesar 81 responden dan yang memiliki umur beresiko sebesar 39 responden.

 

 

 

 

Tabel 5 : Distribusi frekuensi responden kontrol berdasarkan umur ibu saat hamil kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun di RSUD Wates Kabupaten Kulon  Progo Tahun 2006

 

No

Umur

Frekuensi

%

1

Umur kurang 20 tahun

3

2,5

2

Umur lebih 35 tahun

36

30

3

Umur tidak berisiko (20-35 tahun)

81

67,5

 

Jumlah

120

100

     Sumber :data sekunder

Tabel 5 menunjukkan umur lebih 35 tahun yang tidak mengalami pre eklampsia-eklampsia lebih besar dibandingkan dengan umur kurang 20 tahun yang bisa disebabkan oleh faktor lain yang tidak dikendalikan.

 

  1. 3.      Hubungan Umur Ibu Hamil Dengan Kejadian Pre eklampsia-Eklampsia

         Dalam penelitian untuk mencari hubungan digunakan chi square (Chi kuadrat) dengan rumus sebagai berikut :

X2 =

X2 = 11,25

         Didapatkan harga Chi kuadrat hitung sebesar 11,25. Selanjutnya dibandingkan dengan harga Chi kuadrat tabel pada derajat kebebasan 1 dengan taraf kesalahan 5% yaitu sebesar 3,841 maka harga Chi kuadrat hitung lebih besar dari harga Chi kuadrat tabel, dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, maka menunjukkan ada hubungan antara umur ibu hamil dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia.

 

  1. 4.      Resiko Umur Ibu Hamil Terhadap Kejadian Pre eklampsia-Eklampsia

Pada penelitian ini untuk mencari besar resiko menggunakan rumus ratio odds melalui tabel silang dibawah ini :

Tabel 6 :Cross tabel umur ibu saat hamil dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo.

 

Umur Ibu hamil

Insiden pre eklampsia-eklampsia

Total

Pre eklampsia-eklampsia

Tidak pre eklampsia-eklampsia

Umur beresiko

25

39

64

Umur tidak beresiko

15

81

96

Total

40

120

160

 

      RO = =

      R0 = 3,46

Berdasarkan perhitungan pada tabel 6 diatas, didapatkan hasil  RO sebesar 3,46 bila hal ini sesuai dengan interpretasi nilai ratio >1 maka umur ibu hamil merupakan faktor resiko terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia, maka umur ibu hamil kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun berisiko mengalami pre eklampsia-eklampsia sebesar 3,46 kali lebih besar dibandingkan umur ibu hamil yang tidak beresiko (20-35 tahun).

Tabel 7 :Cross tabel umur ibu saat hamil kurang 20 tahun dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo.

 

Umur Ibu hamil

Insiden pre eklampsia-eklampsia

Total

Pre eklampsia-eklampsia

Tidak pre eklampsia-eklampsia

Umur kurang 20 tahun

7

3

10

Umur tidak beresiko (20-35 thn)

15

81

96

Total

22

84

106

     RO = =

     R0 = 12,6

Berdasarkan perhitungan pada tabel 7 diatas, didapatkan hasil  RO sebesar 12,6 bila hal ini sesuai dengan interpretasi nilai ratio >1 maka umur ibu hamil merupakan faktor resiko terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia, jadi umur ibu hamil kurang 20 tahun mempunyai peluang terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia sebesar 12,6 kalii lebih besar dibandingkan umur ibu hamil yang tidak beresiko (20-35 tahun).

 

 

 

 

Tabel 8 :Cross tabel umur ibu saat hamil lebih 35 tahun dengan kejadian pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo.

 

 

Umur Ibu hamil

Insiden pre eklampsia-eklampsia

Total

Pre eklampsia-eklampsia

Tidak pre eklampsia-eklampsia

Umur lebih 35 tahun

18

36

54

Umur tidak beresiko (20-35 thn)

15

81

96

Total

33

117

150

   

 RO = =

     R0 = 2,7

Berdasarkan perhitungan pada tabel 8 diatas, didapatkan hasil  RO sebesar 2,7 bila hal ini sesuai dengan interpretasi nilai ratio >1 maka umur ibu hamil merupakan faktor resiko terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia, jadi umur ibu hamil lebih 35 tahun mempunyai peluang terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia sebesar 2,7 kalii lebih besar dibandingkan umur ibu hamil yang tidak beresiko (20-35 tahun).

 

  1. B.    Pembahasan

Seperti yang telah diketahui pre eklampsia-eklampsia merupakan salah satu penyebab kematian ibu terbanyak di negara-negara berkembang, disamping perdarahan dan infeksi (Saefuddin, 2003).  Berdasarkan hasil pengumpulan data selama penelitian ini yang berlangsung tanggal 20-22 Februari tahun 2007, diambil data tahun 2006 sebanyak 1.234 persalinan di RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo yang diambil secara purposive sampling, dan didapatkan insiden pre eklampsia-eklampsia sebanyak 57 kasus yaitu sebesar 4,62%, sedangkan data pre eklampsia-eklampsia tahun 2004 sebesar 6,74% dari 904 persalinan dan tahun 2005 sebesar 8,65% sehingga terjadi penurunan yang sangat mencolok yaitu sebesar 4,03%.

Dalam penelitian ini paritas rata-rata dari sampel kasus adalah 1,63 dan sampel kontrol adalah 1,86 yang memberi kesan bahwa paritas dalam penelitian ini homogen.

Sampel kasus dalam penelitian ini yang paling banyak adalah kelompok umur beresiko (kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun) sebesar 62,5% sehingga angka ini lebih tinggi dari penelitian yang dilakukan oleh Wibowo B.(1995) di RS Karyadi Semarang yaitu sebesar 58,3%.  Selain itu kejadian pre eklampsia-eklampsia dalam penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putu Sudiyana tahun 2000 mengatakan bahwa pre eklampsi-eklampsia sering terjadi pada usia muda dan nullipara begitu juga menurut pendapat Chesly (1995) pre eklampsia-eklampsia hampir selalu merupakan penyakit wanita nullipara meskipun pre eklampsia lebih sering didapatkan pada awal dan akhir usia reproduksi, yaitu usia remaja atau usia diatas 35 tahun.    Pre eklampsia diatas 35 tahun biasanya menunjukkan hipertensi yang diperberat oleh kehamilan.  Kehamilan pada usia diatas 35 tahun mempunyai resiko 2 atau 3 kali untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan antara lain perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam kehamilan, distosia dan partus lama.   Pada usia tua meskipun mental dan sosial ekonomi lebih mantap dibandingkan yang muda tetap fisik mengalami kemunduran (Rochjati, 1994), hal ini didukung pendapat Sarwono pada tahun 2003, pada ibu hamil dan bersalin dibawah usia 20 tahun dan diatas 35 tahun komplikasi dan kematian 2-5 kali lebih tinggi.

 Resiko yang lebih besar yang harus dihadapi oleh ibu yang telah berumur diatas 35 tahun adalah mempunyai anak dengan syndrome down.  Resiko ini meningkat dengan bertambahnya usia, selain itu ibu yang berusia diatas 35 tahun juga mempuyai kemungkinan lebih besar mengalami tekanan darah tinggi dan diabetes yang lebih umum terjadi pada kelompok yang lebih tua ( Wahyudi, 2000).

Pada penelitian ini umur ibu hamil yang beresiko tetapi tidak mengalami pre eklampsia-eklampsia yaitu 32,5%, hal ini bisa disebabkan karena tidak dapat mengendalikan variabel malnutrisi dan bayi hidropfetalis yang dapat menyebabkan pre eklampsi-eklampsia akibat catatan rekam medik yang kurang lengkap.   

Penyebab penyakit pre eklampsia-eklampsia sampai saat ini belum diketahui secara pasti.  Banyak teori yang mencoba menerangkan sebab dari penyakit ini, tetapi tidak ada jawaban yang dapat yang memuaskan. Teori yang dapat diterima harus dapat menerangkan hal-hal berikut (1) sebab bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion dan molahidatidosa, (2) sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya usia pada saat hamil, (3) sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita kematian janin dalam uterus, (4) sebab jarang terjadinya pre eklampsia-eklampsia pada kehamilan berikutnya, (5) sebab timbulnya hipertensi, oedema, proteinuria, kejang dan koma.

Umur  merupakan salah satu faktor resiko terjadinya pre eklampsia-eklampsia. Insidens tinggi pada primigravida muda dan meningkat pada primigravida tua, ini dikarenakan pada umur kurang dari 20 tahun organ-organ reproduksi belum sempurna sehingga menyebabkan produksi estrogen belum maksimal sehingga mempengaruhi proses kehamilan sedangkan pada primigravida tua lebih banyak dipengaruhi oleh pola makan dan penurunan fungsi organ reproduksi (Sarwono, 2003), selain itu pada primigravida tua insiden pre eklampsia-eklampsia biasanya menunjukkan hipertensi yang diperberat oleh kehamilan (Rochjati, 1994).

  Besar ratio odds dalam penelitian ini didapatkan 3,46 kali, yang membuktikan bahwa ibu hamil yang memiliki umur beresiko yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun mempunyai peluang  untuk terjadi pre eklampsia-eklampsia 3 kali lebih beresiko dari umur reproduksi sehat yaitu 20 tahun sampai 35 tahun.   Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Manuaba (2003) bahwa insiden pre eklampsia-eklampsia pada wanita dengan umur kurang dari 20 tahun  insiden lebih dari 3 kali lipat dan usia lebih dari 35 tahun dapat terjadi hipertensi laten.

Dalam penelitian ini umur kurang 20 tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami pre eklampsia-eklampsia dibandingkan dengan  umur lebih 35 tahun, pernyataan ini juga didukung oleh Duenhelter dkk. dalam Cunningham yang mengatakan bahwa setiap remaja nulligravida yang masih sangat muda mempunyai resiko yang lebih besar untuk mengalami pre eklampsia-eklampsia.  Hal ini disebabkan karena pada usia kurang 20 tahun belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan kesehatan, namun pre eklampsia-eklampsia sering terjadi pada usia lebih dari 35 tahun dimana fungsi organ reproduksi sudah mulai menurun (Sarwono, 2003), dikatakan juga oleh Wahyudi (2000) saat terbaik bagi seorang perempuan untuk hamil adalah saat berusia 20-35 tahun, sel telur telah diproduksi sejak lahir namun baru terjadi ovulasi ketika masa pubertas.  Sel telur yang berhasil keluar hanya satu setiap bulan, ini menunjukkan adanya unsur seleksi yang terjadi sehingga diasumsikan sel telur yang berhasil keluar adalah sel telur yang unggul.  Oleh karena itu semakin lanjut usia maka kualitas sel telur sudah berkurang hingga berakibat juga menurunnya kualitas keturunan yang dihasilkan, sementara usia dibawah 20 tahun bukan masa yang baik untuk hamil karena organ-organ reproduksi belum sempurna yang tentu akan menyulitkan proses kehamilan dan persalinan. Sehingga hasil penelitian ini umur yang beresiko (kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun) merupakan salah satu faktor resiko terjadinya pre eklampsia-eklampsia,dan dari penelitian juga diketahui bahwa umur saat hamil kurang dari 20 tahun mempunyai resiko lebih besar terjadi pre eklampsia-eklampsia dibanding dengan umur lebih 35 tahun.

 

  1. C.    Keterbatasan dan Hambatan Penelitian
    1. Pada penelitian ini tidak ditentukan sampel size minimalnya sehingga jumlah sampel diasumsikan tidak dapat mewakili seluruh populasi.
    2. Tidak dapat mengontrol variabel malnutrisi dan bayi hidropfetalis  yang dapat mempengaruhi kejadian pre eklampsia-eklampsia.

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.     Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian dan setelah dilakukan analisis serta pembahasan, maka dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Angka kejadian pre eklampsia-eklampsia  pada ibu hamil dengan umur kurang 20 tahun pada subyek penelitian sebesar 7 kasus (70%).
  2. Angka kejadian pre eklampsia pre eklampsia-eklampsia pada ibu hamil dengan umur lebih 35 tahun pada subyek penelitian sebesar 18 kasus (33,3%).
  3. Angka kejadian pre eklampsia-eklampsia pada ibu hamil dengan umur 20-35 tahun pada subyek penelitian sebesar 15 kasus (15,63%).
  4. Angka kejadian pre eklampsia pre eklampsia-eklampsia pada ibu hamil dengan kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun pada subyek penelitian sebesar 25 kasus (39,1%).
  5. Ibu hamil dengan  umur beresiko (kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun) mempuyai resiko untuk terjadinya pre eklampsia-eklampsia sebesar 3,46 lebih besar dibanding dengan umur yang tidak beresiko(umur 20-35 tahun), sedangkan ibu hamil dengan umur kurang 20 tahun mempunyai risiko 12,6 lebih besar untuk mengalami pre eklampsia-eklampsia dibanding pada kelompok ibu hamil dengan umur lebih 35 tahun yaitu sebesar 2,7 kali.

 

  1. B.    Saran

            Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut diatas, maka ada beberapa saran yang dapat dikemukakan sebagai berikut :

  1. Bagi pengambil kebijakan

         Berdasarkan hasil penelitian bahwa umur ibu hamil merupakan variabel resiko untuk terjadinya pre eklampsia-eklampsia, maka diharapkan Rumah Sakit  dapat meningkatkan penanganan pre eklampsia yang bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia dan pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal.

  1. Bagi Tenaga Kesehatan

                  Bagi tenaga kesehatan agar meningkatkan jumlah dan kualitas pelayanan kebidanan terutama dalam pemberian konseling dan penyuluhan khususnya pada ibu hamil dengan umur yang beresiko terhadap kejadian pre eklampsia-eklampsia (umur kurang 20 tahun dan lebih 35 tahun) atau melakukan screening ibu hamil sehingga dapat diantisipasi segera apabila ditemukan tanda gejala pre eklampsia-eklampsia pada ibu hamil.

 

  1. Bagi peneliti lain

                  Mengingat dalam metode ini menggunakan metode case control serta dalam penelitian ini tidak ditentukan jumlah sampel size minimalnya, maka disarankan kepada peneliti lain untuk dapat melakukan penelitian lain dengan metode yang lebih baik yaitu metode prospektif observasional atau kohort serta disarankan juga untuk menentukan sampel size minimalnya dan pengendalian variabel-variabel pengganggu secara maksimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andriani, S. 2006. Studi Faktor Resiko Paritas Terhadap Kejadian Pre eklampsia-eklampsia di RSUD Wates. Poltekkes Jurusan Kebidanan. Yogyakarta.

 

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

 

Chesly. 1995. Obstetri William. Jakarta : EGC

 

Cunningham, F.G, dkk. 1995. Obstetri William. Jakarta :EGC

 

Depkes RI, SDKI. 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten Sehat. Jakarta.

 

Dinkessos DIY. 2004. Laporan Bulanan. Propinsi Daerah Istimewa          Yogyakarta

 

Farer, H. 1999. Perawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta : EGC.

 

Manuaba, IBG. 2003. Imu Kebidanan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Catatan 1 Jakarta : EGC.

 

Margiwiyati, Eni. 2005. Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Pre eklampsia-eklampsia di RSUD Sleman. Poltekkes Jurusan Kebidanan. Yogyakarta.

 

Muchtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.

 

Notoatmojo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

 

Purwodarminta, 1995. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi. Jakarta : EGC.

 

Pusdiknakes, 2001. Asuhan Antenatal. Jakarta :WHO-JPPIEGO.

 

Prawirohardjo, Sarwono. 2003. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo.

 

Rachimhadhi, J. 2003. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

 

Rochajati, Rahmihadi, R.P. 1994. Penelitian” High Risk Pregnancy” di RSDr. Soetomo. Jawa Timur: naskah Ilmiah Pelengkap KOGI

 

Saefuddin, AB. 2003. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : JN PKKKR-POGI.

 

Sastroasmoro, S. 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta : Binarupa Aksara.

 

Setyowati, T. 1996. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bayi Baru Lahir Dengan Berat Badan Rendah. Http//www.Litbang Depkes.go.id.

 

Senewe, F.P. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Komplikasi Persalinan 3 Tahun Terakhir Di Indonesia. Http//www. Digilib. Litbang. Depkes. go.id.

 

Sudinaya, Putu. 2000. Insiden Pre eklampsia-eklampsia di Rumah Sakit Tarakan, Kalimantan Timur. Bagian Obstetrik dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Tarakan. Kalimantan Timur.

 

Sugiyono. 2002. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

 

Varney, H. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC.

 

Wahyudi. 2000. Kesehatan Reproduksi Remaja. Jawa Barat. PKBI

 

Wibisono Bambang dr.1997. Kematian Perenatal pada Pre eklampsia-eklampsia. FK. Undip Semarang

 

Wibowo B. 1995. Karakteristik Pre eklampsia-eklampsia di RS Karyadi. Semarang.

 

Wiknjosastro, H. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No No CM Pre eklampsia-eklampsia Umur Paritas
1 358723 1 37 4
2 388186 2 19 1
3 388285 2 23 1
4 388176 2 38 3
5 388089 2 39 4
6 381159 1 40 2
7 367475 2 36 4
8 174814 2 29 1
9 380529 1 17 1
10 367459 2 39 4
11 388076 2 25 1
12 268180 2 29 2
13 366628 2 21 2
14 380736 1 27 1
15 380771 1 23 1
16 367276 2 38 4
17 367484 2 24 1
18 367506 2 23 1
19 353760 2 30 3
20 380831 1 24 1
21 381234 1 36 3
22 388639 2 23 1
23 383867 2 23 1
23 37501 2 37 3
25 381314 1 27 1
26 388009 2 30 1
27 378982 2 32 1
28 354907 1 43 3
29 367536 2 23 1
30 387938 2 21 2
31 387939 2 37 2
32 387885 2 19 1
33 378614 2 36 4
34 223353 2 24 1
35 383867 2 23 1
36 382184 1 21 1
37 367547 2 23 1
38 382261 1 22 1
39 358314 2 26 2
40 387849 2 36 4
41 387965 2 26 2
42 363139 1 37 3
43 383859 1 37 2
44 364341 2 37 2
45 378564 2 36 2
46 338106 2 36 2
47 375021 2 37 3
48 311989 2 37 4
49 367579 2 20 1
50 367507 2 36 2
51 367612 2 31 2
52 383834 1 23 1
53 367602 2 36 4
54 384257 1 21 1
55 384207 1 38 4
56 350297 2 29 2
57 374604 1 38 4
58 384411 1 23 1
59 334459 1 39 4
60 367613 2 42 3
61 174814 2 29 2
62 367653 2 32 2
63 385570 1 30 2
64 367654 2 39 3
65 342534 1 42 3
66 385733 1 29 2
67 367658 2 23 2
68 116519 2 38 2
69 367657 2 25 2
70 386250 1 43 4
71 388703 2 32 3
72 388684 2 23 1
73 389629 2 28 2
74 388652 2 31 1
75 388624 2 21 1
76 386259 1 23 1
77 387142 2 23 1
78 386529 1 30 3
79 388626 2 33 1
80 388612 2 25 1
81 388597 2 34 3
82 388611 2 37 2
83 388560 2 32 2
84 220175 2 32 2
85 387542 1 19 1
86 367667 2 37 4
87 367659 2 30 2
88 387526 1 36 2
89 367695 2 27 2
90 388311 2 25 1
91 367706 2 27 1
92 377899 2 25 1
93 387572 1 25 1
94 388508 2 23 1
95 388495 2 25 1
96 388805 2 23 1
97 388256 2 21 2
98 388285 2 23 1
99 388498 2 26 1
100 378602 1 37 4
101 367710 2 23 1
102 388444 2 34 1
103 388373 2 34 2
104 380332 2 29 1
105 387914 2 23 1
106 358005 2 36 3
107 387769 1 36 2
108 387760 1 39 2
109 388901 2 21 1
110 327377 2 22 2
111 388849 2 21 1
112 379739 2 23 1
113 355985 2 40 3
114 335495 2 31 2
115 366420 2 21 2
116 377214 2 36 2
117 388734 2 36 3
118 388485 2 36 2
119 380090 1 30 2
120 264635 2 36 2
121 367718 2 26 2
122 388950 2 30 2
123 378183 2 33 3
124 359716 1 19 2
125 367721 2 23 1
126 388154 1 18 1
127 388174 1 36 2
128 367741 2 22 1
129 367748 2 31 1
130 388243 1 18 1
131 367899 2 28 1
132 003320 2 34 4
133 368023 2 33 4
134 368020 2 29 2
135 368802 2 21 2
136 368095 2 23 1
137 368130 2 36 1
138 388277 1 37 2
139 368171 2 24 1
140 368047 2 25 1
141 367849 2 31 1
142 368240 2 22 1
143 388953 2 28 2
144 389069 2 26 1
145 388312 1 17 1
146 367466 2 40 1
147 389071 2 17 1
148 382810 2 36 4
149 317643 2 30 2
150 367844 2 39 2
151 358103 2 29 2
152 388376 1 19 1
153 367861 2 29 1
154 367877 2 20 1
155 388900 1 36 4
156 365102 2 28 2
157 378722 2 20 1
158 372106 2 37 3
159 387636 2 24 2
160 387640 2 24 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X2 =

Diketahui :

fo         : frekuensi yang diobservasi

fh         : frekuensi yang diharapkan

fo1: 25, fo2: 39, fo3: 15, fo4:81

fh1 =

fh2 =

fh3 =

 

fh4 =

X2 =

X2 =11,25

 

Umur Ibu hamil

Insiden pre eklampsia-eklampsia

Total

Pre eklampsia-eklampsia

Tidak pre eklampsia-eklampsia

Umur beresiko

25

39

64

Umur tidak beresiko

15

81

96

Total

40

120

160

 

 

 

 

 

 

RO = =

R0 = 3,46

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.